Wanita dan Masakannya

source: google

Yang lagi trending di twitter akhir-akhir ini bukan hanya uninstall gojek yang hubungannya ada unsur politiknya, tapi ada hal lain yang menggelitik sanubariku, persoalan "wanita dan masakannya". Pembahasan soal wanita dan masakan rasanya adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan. Bahkan para tetua selalu bilang "kalau belum bisa masak, belum boleh menikah". Boleh nyanyi "hmm" nya Nissa Sabyan 10 Jam nggak ? -_-

Cuitan dari mbak @/selphieusagi menggugah para laki-laki yang mempermasalahkan wanita kudu bisa masak. Kalau aku sih di tim mbaknya, secara.. masak masih bisanya masak air biar mateng, goreng telor dadar, bikin mie rebus, dan apalagi ya? Nasi goreng? bisalah.. sekalipun pake bumbu mie instan ._.

Jadi pada intinya, si mbak Selvi mengatakan bahwa, "ini uda 2018 lho guys, masih aja ada yang komplain tentang wanita gak masak". Cuitan itu bikin para nitijen heboh. Apalagi kaum adam, hmm.. pada rame dengan komen tuntutan "cewek kodratnya bisa masak". Namun ada pula yang komen dengan lapang dada yang istilahnya saling mengerti dan memahami. Kalau belum bisa memasak ya belajar bersama. Hmm.. ini idaman banget sih, uwuwuwu :')

source: google "RockingMama"

Oke, sampai situ aku paham. Ini soal stereotip laki-laki terhadap wanita yang belum bisa memasak. garis bawahi ya.. belum bisa. bukan "tidak bisa dan tidak mau". Kebanyakan, para wanita single agak susah kalau disuruh pegang peralatan dapur. Bukan karena tidak mau, tapi karena belum begitu ada tuntutan untuk mengharuskan memasak. Namun di sisi lain, para wanita yang belum bisa memasak ini, bukan berarti mereka tidak melakukan hal lain. Mereka pasti ada kelebihan di bidang lain. Misal nih, yang lagi digadang-gadang adalah wanita yang bisa angkat galon dan pasang gas elpiji. Kamu wanita, bisa yang mana?

Banyak kasus yang ada disekitarku - teman-teman dan saudara-saudara perempuan yang saat masih single - mereka mengaku belum bisa memasak. Tapi ketika mereka sudah memasuki bahtera rumah tangga, entah kenapa pada suka memasak sendiri dibanding beli. Pada mulanya memang belum seenak masakan restoran, namun semangat pantang menyerah membuat mereka akhirnya menjadi wanita yang bisa masak. Mereka mengaku kalau memasak sendiri itu lebih hemat dan bisa lebih sehat. Bukan hanya itu, mereka lebih bersemangat memasak karena setiap hari ada yang rela jadi testee sekalipun rasanya masih.. ya begitulah. Apalagi ketika masakannya dimakan lahap hingga bersih habis, hmm.. ada perasaan bahagia tersendiri yang malah bikin pengen explore masak apa lagi.


Jadi wahai Abang-abang, bersabarlah jika memiliki pasangan yang belum pandai memasak. Pasangan Abang bukan tidak mau memasak, hanya belum bisa saja. Jikalau Abang yang pandai memasak, bukankah baiknya mengajari dengan sabar dan penuh perhatian? Ah.. itu lebih romantis lho.. dibanding harus nuntut terus menerus. Pada dasarnya, wanita-wanita yang belum pandai memasak pasti sudah belajar untuk menggoreng meskipun pada akhirnya gosong gorengannya, belajar mengupas bawang sekalipun berakhir dengan deraian air mata, belajar menanak nasi via magic com sekalipun ditunggu setengah jam belum masak-masak ternyata lupa belum di klik tombol cook. Maka dari itu, bersabarlah wahai Abang-abang. Sembari menunggu dengan sabar, nikmatilah mie rebus buatan pasangan Abang, apalagi kalau pasangan Abang bikinin salad buah, sudah.. ndak apa-apa sekali-kali hidup sehat :')


Kami, saya, wanita sadar betul, bahwa makanan dapat menjadikan simbol "pengikat hubungan antara suami istri sebagai intimate moment" namun ya itu, mohon harap bersabar. Kami akan memasak untuk keluarga :')

No comments:

Powered by Blogger.